Jumat, 20 Juni 2014

Berbagai Materi dalam Psikologi Pendidikan

Berbagai Materi dalam Psikologi Pendidikan

Dalam psikologi pendidikan banyak materi yang bisa kita dapatkan. mulai dari intelegensi, motivasi, pengelolaan kelas, teori-teori yang dipakai, tes dan evaluasi, psikologi anak berkebutuhan khusus, pedagogi dan andragogi, proses kognitif yang kompleks, dan masih banyak lagi. Untuk apa kita belajar ini semua? memangnya mau jadi guru BP? memangnya mau jadi guru? Psikologi pendidikan bukan hanya mengajarkan bagaimana cara kita mendidik orang. psikologi pendidikan juga mengajarkan hal-hal yang bisa kita lihat dalam proses perkembangan kognitif, cara belajar anak, dan proses belajar anak.

Psikologi pendidikan dan psikologi perkembangan anak usia dini juga saling sejalan. Karena selain kita membahas tentang pendidikan anak secara tidak langsung kita juga belajar tentang  perkembangan anak sesuai dengan usianya. Beberapa hal yang lain juga bisa mempengaruhi kita dengan belajar psikologi pendidikan. Contohnya, saat kalian mempunyai anak dan akan masuk baik Sekolah Dasar, SMP, ataupun SMA. Kita masih bisa memantau apakah cara belajar dan cara mengajar gurunya sudah benar? apakah anak saya bisa menerima materi dengan baik? Nah, kita jadi untungkan. Kita jadi mengerti bagaimana proses belajar yang baik itu sendiri. Kita juga jadi mengerti bagaimana proses mengajar yang baik itu juga.

 Bagaimana? tertarik untuk masuk kedalam kuliah psikologi pendidikan?

Jumat, 13 Juni 2014

PENGALAMAN KULIAH ONLINE

Pengalaman Kuliah Online
Dengan semakin berkembangnya zaman, kita semakin lekat dengan perkembangan teknologi, salah satunya adalah internet. Zaman sekarang siapa yang bisa lepas dengan internet? Internet benar-benar mempermudah dalam pemberian informasi dan hiburan lainnya. Kita mungkin tidak asing lagi dengan kuliah melalui internet atau yang biasa kita sebut dengan kuliah online. Di beberapa universitas baik di dalam maupun diluar negeri mulai mengembangkan fasilitas ini. Fasilitas kuliah online ini bisa menjadi salah satu solusi bagi para mahasiswa ataupun dosen. Terkadang ada hal-hal yang terjadi sehingga menggangu jadwal kuliah, misalnya dosen ada urusan sehingga harus ada kelas ganti. Tentu hal ini bisa menjadi salah satu kendala mengapa mahasiswa tidak masuk kelas. Dengan adanya kuliah online, ini bisa menjadi salah satu solusi. Jadi, beberapa bulan yang lalu, Fak. Psikologi USU mencoba kuliah dengan metode ini. Kami diberikan waktu 1 jam untuk mencari signal internet yang cepat dan kencang karena wifi di kampus juga tidak bisa menampung semua akses internet.
Jadi saya dan beberapa teman saya mendatangi tempat yang sepi dan dekat kampus agar tidak memakan waktu selama perjalanan. Tempat pertama yang kami datangi adalah Kong Kali Kong di setia budi. Saat sampai disana, kami bertanya kepada pegawainya apakah wifinya bisa dipakaii? tetapi pegawainya seperti tidak mengerti dan hanya mengangguk. Lalu kami naik ke atas, memang diatas cuman hanya ada satu orang abang-abang yang bermain laptop. Sekitar 15 menit kami disana kami mencoba mengakses wifinya ternyata gagal, kami pun bertanya kepada abang-abang tersebut dia mengatakan bahwa wifinya memang tidak bisa dipakai. Kami langsung panik dan buru-buru pergi. Karena kami tidak punya kendaraan kami segera mencari kendaraan umum untuk pergi.Terakhir kami tidak punya pilihan lain dan pergi ke Mcd Ringroad.
Pertama kami kesulitan masuk kedalam room chat karena ini pertama kalinya kami cara grup chat dengan email. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya kami bisa masuk ke dalam room chat. Ini merupakan pengalaman pertama saya dengan kuliah online sehingga sedikit sulit untuk mengerti cara menggunakannya, apalagi dari gadget bukan komputer. Kuliah online ini memang bagus dan lebih efisien, tetapi ada beberapa kendala, seperti jaringan internet indonesia yang lemah, cara mengerti menggunakan aplikasinya juga pertama-tamanya bingung Tapi kita bisa mengembangkan kuliah online ini pasti lebih bagus lagi ke depannya.

Sekian pendapat dan pengalaman saya
Terima kasih

Kamis, 12 Juni 2014

CARA MENJAGA TAS KULIT

Cara Menjaga Tas Kulit

Sebagai perempuan kita pasti senang dengan tas baru ataupun tas favorit kita yang sudah lama. Apalagi jika berbahan kulit, tapi bagaimana jika tas favorit kita jadi rusak dan mengelupas karena tidak kita rawat?
Saya akan berbagi tips cara merawat tas kulit anda agar tetap kelihatan seperti baru.
  • Simpan tas anda di dalam suatu lemari, jangan ditumpuk biarkan ada sela diantara tas-tas anda
  • Jangan biarkan tas anda tiap hari di dalam lemari, hal ini juga tidak bagus.
  • Sering angin-anginkan tas anda
  • Agar menjaga kelembapan tas kulit anda berilah lotion di seluruh tas anda, agar tas anda tetap mengilap.
  • Masukkan gulungan kertas atau plastik kedalam tas anda sampai tas anda terlihat penuh (jangan penuh sekali), hal ini menjaga agar tas anda tetap pada bentuknya

SEMOGA MEMBANTU

Pengalaman Pedagogi dan Andragogi

Pengalaman Pedagogi atau Andragogi

Pedagogi adalah pendidikan atau pembelajaran yang diberikan untuk anak-anak, sedangkan andragogi adalah pendidikan atau pembelajaran yang diberikan untuk orang dewasa. Jadi, apakah ini dua hal yang berbeda? Inikan sama sama tentang pendidikan sama-sama tentang pembelajaran kenapa ini berbeda. Saya akan mengilustrasikan pengalaman saya tentang pedagogi dan andragogi. sewaktu saya masuk TK dan SD, semua terasa sulit bagi saya. Saya harus mengenal hal-hal yang baru seperti membaca, menulis, menghitung, dll. Mungkin sewaktu TK sekolah masih dalam kategori menyenangkan karena kegiatan TK lebih didominasi dengan bermain dibandingkan belajar. sewaktu TK kita diajak untuk melihat sekilas tentang huruf, menulis huruf, bermain, melihat bagaimana bentuk-bentuk dan sewaktu SD kita sudah diminta untuk bisa menulis, membaca, menghitung tanpa bantuan orang lain atau guru lagi. Saya berusaha untuk bisa menghitung atau membaca dengan baik agar tidak tertinggal dengan yang lain. Biasanya guru akan mengingatkan kembali tentang tugas itu sebelum kelasnya selesai. Walaupun saya telat mengumpul atau lupa biasanya guru akan memberikan toleransi dengan alasan yang kita berikan. Tapi terkadang ada beberapa guru yang memberikan tugas tanpa tahu kalau tugas untuk besoknya sudah banyak. Mungkin dia merasa ini menyelesaikan tugas adalah kewajiban kami dan kewajiban dia memberikan tugas. Sewaktu SMP, guru sudah memberikan tugas tentang makalah. Karena itu adalah pertama kalinya saya membuat makalah, baik tulisan maupun bentuk makalahnya sangat kacau, tulisannya warna-warni, ukuran fontnya juga besar, di dalam pikiran saya semakin banyak lembar makalahnya maka makalahnya semakin bagus. sewaktu masuk ke SMA sudah mulai diajarkan bagaimana presentasi yang baik, ada moderator, presenternya, dll. Meskipun sewaktu SMA dulu belajar dengan presentasi sangat tidak efektif dan membosankan, biasanya teman-teman yang lain juga akan mengantuk sewaktu presentasi. Sewaktu SD, SMP, SMA guru berorientasi penuh, mengatur kelas, memberikan materi, mengatur tugas, dll. Guru saya dulu juga biasanya berusaha agar murid fokus ke dia. Guru juga sering memeriksa catatan dan pemahaman murid sewaktu belajar, jika catatannya tidak jelas biasanya akan dihukum. Saat SD juga contoh yang diberikan merupakan imajinasi dan yang dibuat-buat, tetapi masuk ke perkuliahan contoh yang diberikan merupakan masalah nyata dan fakta di tengah-tengah masyarakat, mungkin terjadi pada diri sendiri
Pembelajaran ini berbeda sekali sewaktu dalam perkuliahan, semuanya diberikan kepada mahasiswa, mahasiswa dianggap bisa mengurus semuanya sendiri tanpa dituntun maupun dibantu lagi. Dosen juga hanya akan memberikan jadwal deadline tugas dan biasanya dosen akan membiarkan mahasiswa yang berpendapat. Semester pertama saya sewaktu kuliah, saya benar-benar terkejut dengan cara belajar mahasiswa karena benar-benar berbeda. Jadwal minggu pertama perkuliahan biasanya tentang kontrak kuliah, apa-apa saja yang menjadi hak dan kewajiban kita dan tanggal-tanggal tentang materi kuliah biasanya akan diberitahu. Selama perkuliahan, dosen hanya akan menjelaskan jika mahasiswa bertanya, inilah yang menjadi banyak kendala bagi para mahasiswa. Selain takut untuk bertanya, mahasiswa juga tidak tahu apa yang mereka tidak tahu. Pada saat kuliah, mahasiswalah yang harus aktif berbeda dengan masa sekolah yang menuntut murid untuk pasif dan mendengarkan saja. Dosen akan memberikan tugas berbentuk makalah, portopolio, dsb. Dosen hanya akan memberikan batasan waktu mengerjakannya, jika kita lewat memberikan tugas dari batas waktu yang ditentukan maka tugas itu benar-benar tidak diterima karena dianggap batas waktu adalah perjanjian mahasiswa dan dosen. Dosen juga biasanya akan kritis dalam menilai hasil tugas, ujian, dll. Jika kita tidak datang, tidak mengerjakan tugas dengan baik, itu semua diserahkan kepada kita dan kita harus menanggung konsekuensinya jika nilai akhir kita jelek. Saya pernah takut untuk bertanya dan takut berbicara di depan orang banyak, tapi saya penasaran dan yakin mungkin yang saya tanyakan akan keluar di ujian dan ternyata benar hal yang saya tanyakan keluar di ujian semenjak dari situ saya benar-benar menyesal tidak bertanya. Dosen juga tidak mengecek bagaimana cara belajar murid ini sangat berbanding terbalik sewaktu sekolah guru terus memantau perkembangan belajar murid.
Dua pembelajaran ini bisa diterapakan dengan baik jika sudah memenuhi kriteria umur kronologis dan pemikiran orang masing-masing. Kita tidak mungkin memaksakan anak kelas 3 SMA untuk belajar metode kuliah. Mungkin sebagian dari mereka sudah memenuhi usia kronologisnya tetapi pemikirannya masih pemikiran anak SMA. Lebih baik jika diperkenalkan cara belajar kuliah jadi anak tidak terlalu terkejut saat memasuki masa kuliah.

Minggu, 20 April 2014

HASIL EVALUASI OBSERVASI SEKOLAH

Evaluasi Observasi Sekolah SMP Negeri 1 Medan

Ini adalah evaluasi kinerja dan evaluasi dengan teori terhadap kelompok kami dalam mengobservasi SMP Negeri 1 Medan. Berikut adalah anggota kelompok kami
1. Muhammad Ali (12-073)
2. Imam Mustakim (13-019)
3. Yuli Narty (13-057)
4. Ayu Silvia Manullang (13-079)
5. Yessica (13-101) 
  A.    Evaluasi Terhadap Kinerja Kelompok

Pertama-tama kami meminta izin dari pihak sekolah dengan mendatangi sekolah. Pihak sekolah memberitahu untuk menemui wakil kepala sekolah yang merupakan bagian humas. Saat itu hanya saya yang dari kelompok saya yang datang ke sekolah. Pada hari itu tanggal 27 Maret 2014, saya datang tanpa membawa surat dan ibu itu bilang datang lagi dengan surat izin dari pihak fakultas. Saya kembali ke kampus dan mengurus surat izin dari pihak kampus dengan teman sekelompok saya. Surat dari pihak kampus baru diberikan pada hari selasa minggu depannya. Peraturan dari dosen pengampu yang hanya memperbolehkan 2 kelompok dari kelas saja yang bisa mengobservasi 1 sekolah. Dan ternyata sudah ada 3 kelompok yang ingin mengobservasi SMP Negeri 1. Akhirnya kami mendiskusikan lagi dengan 2 kelompok lain dan 2 kelompok lain memutuskan untuk mencari sekolah lain. Kami memberikan surat izin pada sekolah tanggal 3 April. Tetapi sekolah bilang bahwa kami tidak bisa langsung observasi hari itu ataupun besoknya, memang agak sedikit diundur-undur oleh pihak sekolah. Akhirnya setelah beberapa kali kami minta konfirmasi dari sekolah, kami diizinkan untuk observasi hari Senin tanggal 7 April sedikit gugup dan bingung karena ini adalah observasi kami yang pertama ditambah lagi batas waktu pengumpulan laporan hanya tinggal 2 hari lagi, kami benar-benar berusaha keras agar bisa memberikan laporan terbaik. Dalam kelompok kami saya Yessica dan Imam Mustakim bagian dokumentasi dan Ayu Silvia dan Yuli Narti yang melakukan observasi dalam kelas. Kami melakukan observasi jam 11 siang pada kelas 7 Newton. Nama-nama kelas di sekolah SMP 1 Medan cukup unik karena mereka tidak menggunakan angka, melainkan menggunakan nama-nama ilmuwan dan tokoh-tokoh ini merupakan metode pembelajaran yang bisa memudahkan murid untuk mengingat nama-nama tokoh dengan mudah. Suasana sekolah yang bersih.  dan asri membuat sekolah tampak lebih nyaman dan tenang. Di kelas, suasana kelas cukup bersih dan tidak terlalu sempit karena muridnya juga tidak terlalu banyak. Ini memudahkan guru untuk berinteraksi dengan murid. Saat kami melakukan observasi jam 11 siang, biasanya kalau sudah masuk pelajaran-pelajaran terakhir murid akan terlihat malas-malasan dan mengantuk. Namun di kelas 7 Newton murid tetap terlihat bersemangat dan berkonsentrasi mengikuti pelajaran ,begitu juga dengan guru yang mengajar. Saya dan imam bertugas untuk melakukan dokumentasi dan berkeliling melihat fasilitas-fasilitas sekolah. Sekolah SMP Negeri 1 memiliki area yang cukup luas dan asri. Mereka memiliki 3 lapangan terpisah. Ada lapangan basket, voli dan sepak bola. Lapangan basket dan voli terletak di tengah tengah sekolah, sedangkan lapangan sepak bola terletak di belakang sekolah. Adapun fasilitas lain seperti laboratorium, UKS, kantin dan tempat ibadah. Ada yang cukup unik dari kantin mereka. Ada kantin yang disebut dengan english corner. Jika kita ingin makan atau membeli sesuatu dari kantin ini, kita harus menggunakan bahasa inggris dengan penjualnya. Tujuannya untuk membiasakan para murid menggunakan bahasa inggris dengan fasih. Setelah selesai berkeliling kami kembali ke kelas untuk menyelesaikan observasi dalam kelas. Pelajaran dalam kelas juga sudah mau berakhir. Kinerja kelompok kami saya nilai cukup baik karena kami membagi tugas dengan seimbang sehingga pekerjaan kami selesai lebih efisien dan cepat. Kami sangat berterima kasih kepada anak-anak dan guru yang mau berpartisipasi dan mengizinkan kami untuk melakukan observasi ini.
B.     Evaluasi Hasil Observasi Berdasarkan Teori Belajar
Kami menggunakan teori belajar dari Pengondisian Operan. Saat di dalam kelas kami melihat guru banyak menggunakan penguatan kepada murid yang aktif dan bisa mengerjakan tugas dan mengikuti pelajaran dengan baik. Guru sering melontarkan pujian kepada murid seperti, baik, bagus sekali, benar, dll. Pujian-pujian yang diberikan oleh guru tersebut adalah penguatan positif. Penguatan positif yang diberikan guru memancing murid untuk melakukan hal yang sama agar mendapat pujian atau penguatan positif yang lain. Tetapi saat di kelas kami jarang melihat guru melakukan penguatan negatif. Tetapi saat berada di kelas ada beberapa siswa yang lewat di depan kelas dan berkeliaran, sepertinya mereka tidak mengikuti pelajaran atau dikeluarkan dari kelas. Mereka dimarahi dan dibilang untuk tidak berkeliaran dan segera masuk ke kelas. Bentuk nasihat dan marah yang diberikan guru tadi adalah bentuk penguatan negatif. Penguatan negatif diberikan agar mengurangi stimulus yang ada. Murid mengikuti perkataan guru tersebut untuk menghentikan marah dan repetan yang diberikan guru tersebut. Ada juga bentuk hukuman yang kami temukan saat berada di sekolah. Kami melihat beberapa murid yang dihukum oleh guru. Mereka dihukum berdiri dan dimarahin. Hukuman yang diberikan adalah untuk menghentikan suatu respon yang ada. Menurut teori kognitif Piaget, anak pada masa SMP termasuk di dalam tahap operasional konkrit. Anak pada masa ini dapat menyelesaikan masalah dengan logis jika mereka berfokus pada masa kini, tetapi tidak dapat berpikir secara abstrak. 
Berikut adalah hasil laporan kami dalam bentuk slide. Terima kasih.
Evaluasi Observasi Sekolah SMP Negeri 1 Medan

Ini adalah evaluasi kinerja dan evaluasi dengan teori terhadap kelompok kami dalam mengobservasi SMP Negeri 1 Medan. Berikut adalah anggota kelompok kami
1. Muhammad Ali (12-073) 12073ma.blogspot.com
2. Imam Mustakim (13-019) 13019im.blogspot.com
3. Yuli Narty (13-057) yulinarty.blogspot.com
4. Ayu Silvia Manullang (13-079) 13079asm.blogspot.com
5. Yessica (13-101) yessikagrace.blogspot.com
  A.    Evaluasi Terhadap Kinerja Kelompok

Pertama-tama kami meminta izin dari pihak sekolah dengan mendatangi sekolah. Pihak sekolah memberitahu untuk menemui wakil kepala sekolah yang merupakan bagian humas. Saat itu hanya saya yang dari kelompok saya yang datang ke sekolah. Pada hari itu tanggal 27 Maret 2014, saya datang tanpa membawa surat dan ibu itu bilang datang lagi dengan surat izin dari pihak fakultas. Saya kembali ke kampus dan mengurus surat izin dari pihak kampus dengan teman sekelompok saya. Surat dari pihak kampus baru diberikan pada hari selasa minggu depannya. Peraturan dari dosen pengampu yang hanya memperbolehkan 2 kelompok dari kelas saja yang bisa mengobservasi 1 sekolah. Dan ternyata sudah ada 3 kelompok yang ingin mengobservasi SMP Negeri 1. Akhirnya kami mendiskusikan lagi dengan 2 kelompok lain dan 2 kelompok lain memutuskan untuk mencari sekolah lain. Kami memberikan surat izin pada sekolah tanggal 3 April. Tetapi sekolah bilang bahwa kami tidak bisa langsung observasi hari itu ataupun besoknya, memang agak sedikit diundur-undur oleh pihak sekolah. Akhirnya setelah beberapa kali kami minta konfirmasi dari sekolah, kami diizinkan untuk observasi hari Senin tanggal 7 April sedikit gugup dan bingung karena ini adalah observasi kami yang pertama ditambah lagi batas waktu pengumpulan laporan hanya tinggal 2 hari lagi, kami benar-benar berusaha keras agar bisa memberikan laporan terbaik. Dalam kelompok kami saya Yessica dan Imam Mustakim bagian dokumentasi dan Ayu Silvia dan Yuli Narti yang melakukan observasi dalam kelas. Kami melakukan observasi jam 11 siang pada kelas 7 Newton. Nama-nama kelas di sekolah SMP 1 Medan cukup unik karena mereka tidak menggunakan angka, melainkan menggunakan nama-nama ilmuwan dan tokoh-tokoh ini merupakan metode pembelajaran yang bisa memudahkan murid untuk mengingat nama-nama tokoh dengan mudah. Suasana sekolah yang bersih.  dan asri membuat sekolah tampak lebih nyaman dan tenang. Di kelas, suasana kelas cukup bersih dan tidak terlalu sempit karena muridnya juga tidak terlalu banyak. Ini memudahkan guru untuk berinteraksi dengan murid. Saat kami melakukan observasi jam 11 siang, biasanya kalau sudah masuk pelajaran-pelajaran terakhir murid akan terlihat malas-malasan dan mengantuk. Namun di kelas 7 Newton murid tetap terlihat bersemangat dan berkonsentrasi mengikuti pelajaran ,begitu juga dengan guru yang mengajar. Saya dan imam bertugas untuk melakukan dokumentasi dan berkeliling melihat fasilitas-fasilitas sekolah. Sekolah SMP Negeri 1 memiliki area yang cukup luas dan asri. Mereka memiliki 3 lapangan terpisah. Ada lapangan basket, voli dan sepak bola. Lapangan basket dan voli terletak di tengah tengah sekolah, sedangkan lapangan sepak bola terletak di belakang sekolah. Adapun fasilitas lain seperti laboratorium, UKS, kantin dan tempat ibadah. Ada yang cukup unik dari kantin mereka. Ada kantin yang disebut dengan english corner. Jika kita ingin makan atau membeli sesuatu dari kantin ini, kita harus menggunakan bahasa inggris dengan penjualnya. Tujuannya untuk membiasakan para murid menggunakan bahasa inggris dengan fasih. Setelah selesai berkeliling kami kembali ke kelas untuk menyelesaikan observasi dalam kelas. Pelajaran dalam kelas juga sudah mau berakhir. Kinerja kelompok kami saya nilai cukup baik karena kami membagi tugas dengan seimbang sehingga pekerjaan kami selesai lebih efisien dan cepat. Kami sangat berterima kasih kepada anak-anak dan guru yang mau berpartisipasi dan mengizinkan kami untuk melakukan observasi ini.
B.     Evaluasi Hasil Observasi Berdasarkan Teori Belajar
Kami menggunakan teori belajar dari Pengondisian Operan. Saat di dalam kelas kami melihat guru banyak menggunakan penguatan kepada murid yang aktif dan bisa mengerjakan tugas dan mengikuti pelajaran dengan baik. Guru sering melontarkan pujian kepada murid seperti, baik, bagus sekali, benar, dll. Pujian-pujian yang diberikan oleh guru tersebut adalah penguatan positif. Penguatan positif yang diberikan guru memancing murid untuk melakukan hal yang sama agar mendapat pujian atau penguatan positif yang lain. Tetapi saat di kelas kami jarang melihat guru melakukan penguatan negatif. Tetapi saat berada di kelas ada beberapa siswa yang lewat di depan kelas dan berkeliaran, sepertinya mereka tidak mengikuti pelajaran atau dikeluarkan dari kelas. Mereka dimarahi dan dibilang untuk tidak berkeliaran dan segera masuk ke kelas. Bentuk nasihat dan marah yang diberikan guru tadi adalah bentuk penguatan negatif. Penguatan negatif diberikan agar mengurangi stimulus yang ada. Murid mengikuti perkataan guru tersebut untuk menghentikan marah dan repetan yang diberikan guru tersebut. Ada juga bentuk hukuman yang kami temukan saat berada di sekolah. Kami melihat beberapa murid yang dihukum oleh guru. Mereka dihukum berdiri dan dimarahin. Hukuman yang diberikan adalah untuk menghentikan suatu respon yang ada. Menurut teori kognitif Piaget, anak pada masa SMP termasuk di dalam tahap operasional konkrit. Anak pada masa ini dapat menyelesaikan masalah dengan logis jika mereka berfokus pada masa kini, tetapi tidak dapat berpikir secara abstrak. 
Berikut adalah hasil laporan kami dalam bentuk slide. Terima kasih.

Evaluasi Observasi Sekolah SMP Negeri 1 Medan

Ini adalah evaluasi kinerja dan evaluasi dengan teori terhadap kelompok kami dalam mengobservasi SMP Negeri 1 Medan. Berikut adalah anggota kelompok kami
1. Muhammad Ali (12-073) 12073ma.blogspot.com
2. Imam Mustakim (13-019) 13019im.blogspot.com
3. Yuli Narty (13-057) yulinarty.blogspot.com
4. Ayu Silvia Manullang (13-079) 13079asm.blogspot.com
5. Yessica (13-101) yessikagrace.blogspot.com
  A.    Evaluasi Terhadap Kinerja Kelompok

Pertama-tama kami meminta izin dari pihak sekolah dengan mendatangi sekolah. Pihak sekolah memberitahu untuk menemui wakil kepala sekolah yang merupakan bagian humas. Saat itu hanya saya yang dari kelompok saya yang datang ke sekolah. Pada hari itu tanggal 27 Maret 2014, saya datang tanpa membawa surat dan ibu itu bilang datang lagi dengan surat izin dari pihak fakultas. Saya kembali ke kampus dan mengurus surat izin dari pihak kampus dengan teman sekelompok saya. Surat dari pihak kampus baru diberikan pada hari selasa minggu depannya. Peraturan dari dosen pengampu yang hanya memperbolehkan 2 kelompok dari kelas saja yang bisa mengobservasi 1 sekolah. Dan ternyata sudah ada 3 kelompok yang ingin mengobservasi SMP Negeri 1. Akhirnya kami mendiskusikan lagi dengan 2 kelompok lain dan 2 kelompok lain memutuskan untuk mencari sekolah lain. Kami memberikan surat izin pada sekolah tanggal 3 April. Tetapi sekolah bilang bahwa kami tidak bisa langsung observasi hari itu ataupun besoknya, memang agak sedikit diundur-undur oleh pihak sekolah. Akhirnya setelah beberapa kali kami minta konfirmasi dari sekolah, kami diizinkan untuk observasi hari Senin tanggal 7 April sedikit gugup dan bingung karena ini adalah observasi kami yang pertama ditambah lagi batas waktu pengumpulan laporan hanya tinggal 2 hari lagi, kami benar-benar berusaha keras agar bisa memberikan laporan terbaik. Dalam kelompok kami saya Yessica dan Imam Mustakim bagian dokumentasi dan Ayu Silvia dan Yuli Narti yang melakukan observasi dalam kelas. Kami melakukan observasi jam 11 siang pada kelas 7 Newton. Nama-nama kelas di sekolah SMP 1 Medan cukup unik karena mereka tidak menggunakan angka, melainkan menggunakan nama-nama ilmuwan dan tokoh-tokoh ini merupakan metode pembelajaran yang bisa memudahkan murid untuk mengingat nama-nama tokoh dengan mudah. Suasana sekolah yang bersih.  dan asri membuat sekolah tampak lebih nyaman dan tenang. Di kelas, suasana kelas cukup bersih dan tidak terlalu sempit karena muridnya juga tidak terlalu banyak. Ini memudahkan guru untuk berinteraksi dengan murid. Saat kami melakukan observasi jam 11 siang, biasanya kalau sudah masuk pelajaran-pelajaran terakhir murid akan terlihat malas-malasan dan mengantuk. Namun di kelas 7 Newton murid tetap terlihat bersemangat dan berkonsentrasi mengikuti pelajaran ,begitu juga dengan guru yang mengajar. Saya dan imam bertugas untuk melakukan dokumentasi dan berkeliling melihat fasilitas-fasilitas sekolah. Sekolah SMP Negeri 1 memiliki area yang cukup luas dan asri. Mereka memiliki 3 lapangan terpisah. Ada lapangan basket, voli dan sepak bola. Lapangan basket dan voli terletak di tengah tengah sekolah, sedangkan lapangan sepak bola terletak di belakang sekolah. Adapun fasilitas lain seperti laboratorium, UKS, kantin dan tempat ibadah. Ada yang cukup unik dari kantin mereka. Ada kantin yang disebut dengan english corner. Jika kita ingin makan atau membeli sesuatu dari kantin ini, kita harus menggunakan bahasa inggris dengan penjualnya. Tujuannya untuk membiasakan para murid menggunakan bahasa inggris dengan fasih. Setelah selesai berkeliling kami kembali ke kelas untuk menyelesaikan observasi dalam kelas. Pelajaran dalam kelas juga sudah mau berakhir. Kinerja kelompok kami saya nilai cukup baik karena kami membagi tugas dengan seimbang sehingga pekerjaan kami selesai lebih efisien dan cepat. Kami sangat berterima kasih kepada anak-anak dan guru yang mau berpartisipasi dan mengizinkan kami untuk melakukan observasi ini.
B.     Evaluasi Hasil Observasi Berdasarkan Teori Belajar
Kami menggunakan teori belajar dari Pengondisian Operan. Saat di dalam kelas kami melihat guru banyak menggunakan penguatan kepada murid yang aktif dan bisa mengerjakan tugas dan mengikuti pelajaran dengan baik. Guru sering melontarkan pujian kepada murid seperti, baik, bagus sekali, benar, dll. Pujian-pujian yang diberikan oleh guru tersebut adalah penguatan positif. Penguatan positif yang diberikan guru memancing murid untuk melakukan hal yang sama agar mendapat pujian atau penguatan positif yang lain. Tetapi saat di kelas kami jarang melihat guru melakukan penguatan negatif. Tetapi saat berada di kelas ada beberapa siswa yang lewat di depan kelas dan berkeliaran, sepertinya mereka tidak mengikuti pelajaran atau dikeluarkan dari kelas. Mereka dimarahi dan dibilang untuk tidak berkeliaran dan segera masuk ke kelas. Bentuk nasihat dan marah yang diberikan guru tadi adalah bentuk penguatan negatif. Penguatan negatif diberikan agar mengurangi stimulus yang ada. Murid mengikuti perkataan guru tersebut untuk menghentikan marah dan repetan yang diberikan guru tersebut. Ada juga bentuk hukuman yang kami temukan saat berada di sekolah. Kami melihat beberapa murid yang dihukum oleh guru. Mereka dihukum berdiri dan dimarahin. Hukuman yang diberikan adalah untuk menghentikan suatu respon yang ada. Menurut teori kognitif Piaget, anak pada masa SMP termasuk di dalam tahap operasional konkrit. Anak pada masa ini dapat menyelesaikan masalah dengan logis jika mereka berfokus pada masa kini, tetapi tidak dapat berpikir secara abstrak. 

Sabtu, 22 Maret 2014

TEORI EKOLOGI BRONFENBRENNER



TEORI EKOLOGI BRONFENBRENNER

Urie Bronfenbrenner mengembangkan teori ekologi dimana anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi si perkembangan si anak.
Bronfenbrenner membagi sistem lingkungan menjadi 5 yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke pengaruh kultur yang lebih luas, yaitu:

·         Mikrosistem
 Mikrosistem adalah setting dimana individu menghabiskan banyak waktu. Beberapa konteks dalam sistem ini antara lain adalah keluarga, teman sebaya, sekolah, dan tetangga. Menurut Bronfenbrenner murid bukan penerima pengalaman secara pasif di dalam setting ini, tetapi murid adalah orang yang berinteraksi secara timbal balik dengan orang lain dan membantu mengkonstruksikan setting tersebut.
Kalau dilihat dari pengalaman saya, saya pernah berinteraksi secara langsung dengan guru saat diajukan pertanyaan dikelas. Ini dimaksudkan agar saya lebih aktif dalam kelas.

·         Mesosistem
Mesosistem adalah kaitan antar-mikrosistem. Misalnya pengalaman dalam keluarga dengan pengalaman dalam sekolah. Dalam contoh kasus di pengalaman saya adalah bagaimana orang tua saya mengajarkan cara berbicara yang sopan terhadap orang yang lebih tua atau orang lain yang menjadi lawan bicara saya. Pengalaman yang saya alami dalam keluarga terbawa saat berbicara dengan orang lain di sekolah.

·         Ekosistem
Ekosistem terjadi ketika pengalaman di setting lain ( dimana anak tidak berperan aktif). Misalnya semua kontrol dan peranan dipegang kuat oleh dewan sekolah dan dewan sebuah organisasi. Keputusan yang mereka ambil bisa mempercepat atau memperlambat perkembangan anak. Contoh yang mirip dengan ekosistem yang pernah saya alami adalah saat saya duduk di bangku Sekolah Dasar setiap siswa diwajibkan untuk meminjamkan 1 buku setidaknya seminggu sekali di perpustakaan sekolah. Ini juga termasuk ekosistem karena setting yang dibuat memusatkan dewan sekolah dalam mengontrol keseringan murid meminjam buku. Tindakan ini bertujuan ntuk mempercepat perkembangan pengetahuan anak dalam membaca buku karena sedikitnya minat anak dalam membaca buku di perpustakaan.

·         Makrosistem
Makrosistem adala kultur yang lebih luas. Kultur adalah istilah untuk mencakup peran etnis dan sosioekonomi dalam perkembangan anak. Misalnya beberapa kultur ( seperti Indonesia yang mayoritas muslim) lebih menekankan kepada gender tradisional. Dimana di kebanyakan negara Islam lebih mengutamakan sekolah kepada pria, tetapi di Amerika Serikat lebih bersifat seimbang dimana pria dan wanita bebas untuk bersekolah. Salah satu aspek dari status sosio ekonomi murid adalah faktor perkembangan dalam kemiskinan. Kemiskinan dapat mempengaruhi perkembangan anak dan merusak kemampuan mereka untuk belajar, meskipun beberapa diantara anak tersebut banyak yang masih ulet.

·         Kronosistem
Kronosistem adalah kondisi sosiohistoris dari perkembangan anak. Misalnya murid murid sekarang tumbuh dengan bermacam teknologi yang sudah canggih. Anak zaman sekarang sudah banyak yang sangat pandai menggunakan internet dan komputer dibandingkan dengan zaman dulu. Sekarang anak sudah mulai diajarkan teknologi seperti penggunaan komputer sejak SD. Dalam generasi ini anak tumbuh dalam revolusi seksual, dan generasi yang tumbuh dalam kota yang semerawut dan tak terpusat, yang tidak lagi jelas batas anatara kota, pedesaan, atau subkota.
Pengalaman yang saya alami dalam kronosistem adalah adanya kelas sewaktu saya SD yang pertama kali mengajarkan bagaimana caranya menggunakan komputer, microsoft word. Kelas komputer atau dulu yang disebut dengan TIK adalah kelas yang pertama kali dibuka yang mengajar tentang penggunaan komputer. Saat memasuki SMP pembelajaran tentang komputer masih ada, bagaimana cara menggunakan power point, membuat URL, dll. Saat di bangku SMA penggunaan komputer juga mengajarkan tentang menggunakan photoshop, corel draw, dll.

Sekian bahasan tentang teori Bronfenbrenner dan pengalaman saya yang bisa dikaitkan dengan teorinya. Terima kasih.

Selasa, 11 Maret 2014

Keefektifan antara Pengondisian Klasik dan Operan pada Anak

Kita akan membahas tentang keefektifan antara pengondisian klasik dan operan pada anak. Sebelum kita memilih pengondisian yang lebih efektif kita harus tahu dulu apa yang dimaksud dan dibahas dalam kedua pengondisian ini. Pembelajaran dibagi atas dua yaitu asosiatif dan observasi. Dalam pembelajaran asosiatif terdapat dua pengondisian yang akan kita bahas, yaitu pengondisian klasik dan operan.

PENGONDISIAN KLASIK
Apasih pengondisian klasik? pengondisian klasik itu adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. teori pengondisian klasik ini diperkenalkan oleh Ivan Pavlov saat sedang mengeksperimenkan anjingnya. Disini Pavlov mengasosiasikannya dengan stimulus yaitu unconditioned stimulus (UCS), Unconditioned response (UCR), Conditioned stimulus (CS), Conditioned Response (CR). Pavlov memberikan makanan kepada anjingnya dan anjingnya mengeluarkan air liur, saat dia membunyikan bel anjingnya tidak mengeluarkan air liur, kemudian Pavlov mengasosiasikan setiap kali ada makanan akan ada bunyi bel dan anjing mengeluarkan air liur, lalu setiap kali bel terdengar anjing akan mengeluarkan air liur. terlihat seperti pada poto berikut ini.

 

Di poto ini dijelaskan bahwa sebelum pengondisian daging adalah UCS dan air liur adalah UCR, namun setelah diberikannya pengondisian yaitu saat anjing diberikan makanan dengan bunyi bel, setiap kali bel berbunyi itu adalah CS dan anjing akan mengeluarkan air liur itu adalah CR. 
Lalu bagaimana cara menghubungkannya dengan pendidikan? Kita bisa memberikan stimulus yang menyenangkan atau yang disukai oleh anak-anak, sehingga mereka bisa memberikan respon yang baik dan aktif saat sedang ada di kelas. Guru harus bisa memberikan pengondisian stimulus yang bisa menghasilakan pengondisian respon yang diinginkan. Guru atau pengajar seharusnya tidak boleh memberikan stimulus yang memberikan rasa cemas dan takut terhadap anak-anak karena akan menghasilkan respon yang tidak baik pula, mereka akan merasa terpaksa mengikuti pelajaran dan merasa tertekan.

PENGONDISIAN OPERAN
pengondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.
pengondisian operan ini pertama kali dipelopori oleh E.L. Thorndike dan dibenarkan kembali oleh B.F. Skinner.
Thorndike mempelajari seekor kucing dalam kardus yang pintunya dikunci dan hanya bisa dibuka jika kucing tersebut menekan pijakan yang terdapat dalam kardus dan seekor ikan diletakkan di depan kardus sehingga kucing tersebut bisa mencium aroma dari ikan tersebut. Pertama-tama kucing melakukan respon yang tidak efektif seperti menggigit atau mencakar pintu kardus tersebut, sampai dia tidak sengaja menginjak pijakan tersebut sehingga palang tersebut terbuka. Percobaan-percobaan seperti itu terus diulang sampai akhirnya kucing tersebut mengerti cara membuka pintu tersebut. berdasarkan eksperimen yang dilakukan oleh Thorndike, dia mengeluarkan hukum efek (law effect) yang menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil negatif akan diperlemah.

Dalam pengondisian operan ada yang disebut dengan penguatan atau reinforcement. penguatan ini dibagi atas dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif.

1. Penguatan Positif (Positive Reinforcement)
    Penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung. Contohnya orang tua memuji karena anaknya melakukan tugasnya dengan benar. Jadi, ada kemungkinan anak itu akan melakukan tugasnya dengan baik lagi karena dia mendapat pujian.
2. Penguatan Negatif (Negative Reinforcement)
    Penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respon meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan. Contohnya anak yang menyapu halaman rumahnya karena tidak suka mendengar omelan ibunya. Jadi, dia menyapu rumahnya untuk menghilangkan omelan ibunya.

Bagaimana dengan penerapan pengondisian operan dalam kelas? Guru atau pengajar akan terus memberikan penguatan baik itu dalam positf maupun negatif karena disini guru akan memancing murid untuk melakukan tugasnya baik dia suka maupun dia suka. Maksudnya, jika dia suka dia pasti akan melakukan tugasnya dengan baik dan dia mendapatkan pujian untuk hasil tugasnya, sedangkan jika dia tidak suka mungkin guru akan memberikannya nasihat atau teguran karena hasil yang dia dapatkan tidak maksimal sehingga dia memilih untuk melakukan tugasnya dengan baik untuk menghentikan teguran dari guru tersebut.

Setelah mengetahui tentang pengondisian klasik dan operan, pengondisian yang mana yang lebih efektif untuk digunakan guru atau pengajar dalam mendidik?
Menurut saya, lebih efektif jika guru atau pengajar menggunakan pengondisian operan. Mengapa? karena jika kita menggunakan pengondisian klasik belum tentu stimulus yang kita berikan akan menghasilkan respon yang kita inginkan dan stimulus yang kita berikan belum tentu langsung diberikan respon. Jika kita menggunakan pengondisian operan maka murid akan belajar dengan melihat konsekuensi yang mereka dapat dan kita bisa melihat respon dari murid saat itu juga (langsung). Jika yang mereka kerjakan itu benar, mereka akan mendapatkan positive reinforcement, dimana mereka pasti akan berusaha lagi untuk melakukan tugas mereka dengan baik dan di dalam pengondisian operan, kita bisa menjumpai tentang hukuman ( punishment) yang jelas bagaimana cara menghukum murid tanpa harus melakukakan kekerasan dan malah membuat membuat murid cemas dan takut saat mengikuti kelas itu.Tetapi bukan berarti pengondisian klasik tidak baik, mungkin pada anak-anak pengondisian operan lebih tepat dan lebih efektif.