DOKUMENTASI
Jumat, 29 Mei 2015
Rabu, 27 Mei 2015
EVALUASI PERFORMA KELOMPOK 7 DALAM PENDEKATAN PEMUSATAN MASALAH
KELOMPOK 7
Sarah G. Juliana (13-087)
Dewi Sitepu (13-097)
Yessica (13-101)
Ester Rheyn Judika S (13-109)
Pesta Ria Tambun (13-114)
1. TEORI PEMUSATAN MASALAH
DIKAITKAN DENGAN PERFORMA KELOMPOK
Dalam kurikulum yang berpusat
pada masalah, pengalaman belajar pada kehidupan peserta sehari-hari akan
mempunyai manfaat secara langsung. Tetapi penggunaan metode ini akan kurang
efektif jika tidak didorong peserta didik untuk dilibatkan pada masalahnya
secara langsung. Dalam pendekatan pemusatan masalah, diskusi kelompok dan
berpikir sangat penting. Pada diskusi kelompok, peserta akan aktif dan memiliki
keterlibatan dalam proses pembelajaran.
Berdasarakan teori dalam
pendekatan pemusatan masalah, kelompok mencoba untuk mengangkat topik yang bisa
dilihat dan dialami dalam kehidupan sehari-hari, contohnya perilaku-perilaku
tentang kesetaraan gender. Permasalahan dalam gender sangat luas dalam kehidupan
sehari-hari, yaitu dalam lingkungan pendidikan, kerja, dan sosial. Kelompok
akan mempersempit permasalahan tentang kesetaraan gender menjadi permasalahan
yang terjadi dalam kehidupan sosial.kelompok memberikan pengantar dalam bentuk
video tentang kesetaraan gender dan memberikan penjelasan singkat mengenai
gender sehingga peserta bisa memiliki gambaran masalah apa yang sebenarnya yang
ingin dibahas. Seperti yang dikatakan pada paragraf sebelumnya, diskusi
kelompok dan berpikir pada setiap peserta didik sangat penting. Dalam performa
kelompok, peserta memiliki kesempatan untuk berada dalam satu kelompok dan
membahas mengenai kesetaraan gender.
2.
KONSEP PERFORMA KELOMPOK 7
Konsep
peforma dari kelompok 7 menerapkan metode diskusi secara berkelompok dan
memberikan penjelasan singkat sebelumnya. Seperti yang dijelaskan pada teori
pendekatan pemusatan masalah, hal yang terpenting adalah terlibatnya peserta
didik dalam proses pembelajaran. Metode diskusi adalah salah satu cara yang bisa
digunakan sebagai media agar peserta didik bisa turut aktif dalam pembelajaran.
Pembuatan peserta didik dalam satu kelompok bisa membantu peserta untuk
memiliki pengetahuan yang baru dari peserta didik yang lain atau juga bisa
memberikan dan menginspirasi peserta didik lainnya. Penjelasan singkat yang
diberikan akan menambah pengetahuan peserta didik dan memberikan landasan
teorinya sehingga peserta didik tidak berdiri melalui asumsi-asumsi sendiri.
3.
TANTANGAN YANG DIHADAPI KELOMPOK
Waktu
sulit mengatur jadwal pertemuan untuk mendiskusikan
hal hal yang berkaitan dengan tugas. susah membatasi waktu dalam presentasi
mengingat durasi nya sudah di tentukan.
Topik
kelompok kebingungan di dalam menentukan topik dan
membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan topik apa yang akan di pakai.
Proses
pelaksanaan
kelompok
berusaha mencairkan suasana mengingat ada nya peserta yang masih pasif.
Kelompok juga berusaha membuat ice breaker untuk mengumpulkan perhatian audienc
yang terkadang kurang memperhatikan.
Pembagian
kelompok audience
kelompok sempat
mengalami kebingungan ketika ingin membagi peserta ke dalam beberapa kelompok,
apakah di bagi di awal , pertengahan atau di akhir. Tetapi setelah di lakukan
diskusi, kelompok akhirnya memutuskan mebagi kelompok di pertengahan acara.
4. KENDALA YANG DIHADAPI KELOMPOK
Waktu
Waktu yang digunakan dalam performa sudah cukup bahkan
lebih, sehingga untuk menutupi kelebihan waktu, kelompok berinisiatif untuk
menyisipkan ice breaking sebelum masuk pada sesi pembahasan hasil
diskusi.
Proses pelaksanaan
Proses pelaksanaan berjalan dengan baik walaupun ada
sedikit hambatan pada masalah teknis seperti microphone yang sedikit
bermasalah, dan beberapa kelompok ada yg kurang kondusif ketika berdiskusi
didalam kelompok mereka, bahkan ada yg kelihatannya sosial loafing.
Performa
Performa yg dilakukan cukup baik, pembagian tugas
sudah mulai merata. Video yang ditampilkan menarik dan berhubungan dngan materi
walaupun ada satu video yang kurang berhubungan dengan materi. Tetapi ada
sedikit kendala pada pembahasan, karna video tidak dibahas satu per satu, video
hanya dibahas secara keseluruhan. Ice
breaking yang diberikan dapat diikitu oleh semua audiance, tetapi pada ice
breaking yang kedua audience terlihat kurang dapat mengikuti.
Pembagian
kelompok
Ada
kelompok yang terlalu besar karena gabungan dari tiga kelompk andragogi. Hal
ini menjadi menyebabkan ketidakseimbangan antarkelompok dalam berdiskusi.
5.
PROSES SELAMA PERFORMA BERLANGSUNG
Sebelum
proses pembelajaran dimulai, kelompok memberikan ice breaking sehingga suasana kelas lebih rileks. Ice breaking
dipandu oleh Dewi Sitepu dan diperagakan oleh seluruh anggota kelompok. Untuk
setiap peserta yang mengaku salah menirukan gerakan akan diminta untuk maju
kedepan. Saat itu yang mengaku salah ada Firman, Arifa, dan Agita. Mereka
diminta untuk memberikan satu kata dan satu kalimat mengenai gender. Setelah
mereka selesai memberikan pendapat mereka, kelompok memberikan reward. Setelah
ice breaking selesai, kelompok melanjutkan memberikan materi dalam bentuk slide
mengenai penjelasan singkat tentang gender. Setelah penjelasan singkat mengenai
gender, pembelajaran dilanjutkan dengan menampilkan 3 video mengenai gender.
Videonya berisi bagaimana jika perempuan dan laki-laki bertengkar di tempat
umum, ada yang mengenai bagaimana jika perempuan dan laki-laki ditukar, dan
bagaimana jika di dalam kendaraan umum laki-laki tidak sengaja menyentuh
wanita. Penampilan video tersebut memakan waktu sekitar 11-12 menit dan
pembelajaran dilanjutkan dengan sesi diskusi dimana kelompok membagi setiap
anggota kedalam satu kelompok baru. Kelompok memberikan tiga buah pertanyaan
yang akan dibahas dalam kelompok. Waktu diskusi diberikan sekitar 15 menit
untuk membahas tiga pertanyaan tersebut. Setelah waktu diskusi selesai, setiap
anggota kelompok akan menunjuk satu perwakilan untuk mempaparkan hasil diskusi
mereka. Setelah semua kelompok selesai memaparkan semuanya, kelompok akan
menuju pada kesimpulan pembahasan mengenai kesetaraan gender sebagai penutup
pembelajaran pada pertemuan tersebut.
6.
KRITIK DAN SARAN
·
Sinta Meilastry
Sinta
memberikan kritik mengenai pemberian reward pada saat ice breaking yang dirasa
kurang tepat karena memberikan pada mereka yang salah
·
Muhammad Yusuf Lubis
Peran
setiap gender memang berbeda dan memang tidak bisa benar-benar disetarakan
karena pada dasarnya perannya sudah berbeda. Tetapi kelompok malah mengatakan
bahwa kesetaraan gender itu benar. Kenapa kelompok mengatakan kesetaraan gender
itu benar.
·
Arifa
Arifa
memberikan kritik tentang pembahasan kesetaraan dalam konteks sosial, tapi tadi
ada dibahas tentang kesetaraan gender dalam konteks pekerjaan
·
Kak Fasti Rola
Kak Fasti Rola memberikan kritik sebagai berikut
1.
Sebaiknya saat mempresentasikan video 1,2,3 ditayangkan
satu per satu. Tiap 1 video selesai diberikan penjelasan dan ditanya tanggapan.
sampai video ke 3. Kemudian masuk ke penjelasan tentang gender.
2.
Karena setiap orang memiliki persepsi dan pemahaman
yang berbeda-beda, jadi kelompok juga sebaiknya meminta pendapat dari audiens.
7. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan :
-icebreaking
nya menarik
-video nya
menarik
-dapat
belajar dari pengalaman masa lalu
-pembagian
tugas dari kelompok merata
-audiens nya
aktif
Kekurangan :
Audiens
dibuat berkelompok
8.
PEMBAGIAN TUGAS DALAM KELOMPOK
v Dewi
Sitepu sebagai moderator
v Yessica
sebagai moderator
v Sarah
G. Juliani sebagai pemateri
v Ester
Rheyn Judika S sebagai notulen
v Pesta
Ria Tambun sebagai dokumenter
9.
TAKSASI DANA
1.
Reward : Rp. 10.000
TOTAL
: Rp. 10.000
EVALUASI PERFORMA KELOMPOK 7 DALAM PENDEKATAN PEMUSATAN MASALAH
KELOMPOK 7
Sarah G. Juliana (13-087)
Dewi Sitepu (13-097)
Yessica (13-101)
Ester Rheyn Judika S (13-109)
Pesta Ria Tambun (13-114)
1. TEORI PEMUSATAN MASALAH
DIKAITKAN DENGAN PERFORMA KELOMPOK
Dalam kurikulum yang berpusat
pada masalah, pengalaman belajar pada kehidupan peserta sehari-hari akan
mempunyai manfaat secara langsung. Tetapi penggunaan metode ini akan kurang
efektif jika tidak didorong peserta didik untuk dilibatkan pada masalahnya
secara langsung. Dalam pendekatan pemusatan masalah, diskusi kelompok dan
berpikir sangat penting. Pada diskusi kelompok, peserta akan aktif dan memiliki
keterlibatan dalam proses pembelajaran.
Berdasarakan teori dalam
pendekatan pemusatan masalah, kelompok mencoba untuk mengangkat topik yang bisa
dilihat dan dialami dalam kehidupan sehari-hari, contohnya perilaku-perilaku
tentang kesetaraan gender. Permasalahan dalam gender sangat luas dalam kehidupan
sehari-hari, yaitu dalam lingkungan pendidikan, kerja, dan sosial. Kelompok
akan mempersempit permasalahan tentang kesetaraan gender menjadi permasalahan
yang terjadi dalam kehidupan sosial.kelompok memberikan pengantar dalam bentuk
video tentang kesetaraan gender dan memberikan penjelasan singkat mengenai
gender sehingga peserta bisa memiliki gambaran masalah apa yang sebenarnya yang
ingin dibahas. Seperti yang dikatakan pada paragraf sebelumnya, diskusi
kelompok dan berpikir pada setiap peserta didik sangat penting. Dalam performa
kelompok, peserta memiliki kesempatan untuk berada dalam satu kelompok dan
membahas mengenai kesetaraan gender.
2.
KONSEP PERFORMA KELOMPOK 7
Konsep
peforma dari kelompok 7 menerapkan metode diskusi secara berkelompok dan
memberikan penjelasan singkat sebelumnya. Seperti yang dijelaskan pada teori
pendekatan pemusatan masalah, hal yang terpenting adalah terlibatnya peserta
didik dalam proses pembelajaran. Metode diskusi adalah salah satu cara yang bisa
digunakan sebagai media agar peserta didik bisa turut aktif dalam pembelajaran.
Pembuatan peserta didik dalam satu kelompok bisa membantu peserta untuk
memiliki pengetahuan yang baru dari peserta didik yang lain atau juga bisa
memberikan dan menginspirasi peserta didik lainnya. Penjelasan singkat yang
diberikan akan menambah pengetahuan peserta didik dan memberikan landasan
teorinya sehingga peserta didik tidak berdiri melalui asumsi-asumsi sendiri.
3.
TANTANGAN YANG DIHADAPI KELOMPOK
Waktu
sulit mengatur jadwal pertemuan untuk mendiskusikan
hal hal yang berkaitan dengan tugas. susah membatasi waktu dalam presentasi
mengingat durasi nya sudah di tentukan.
Topik
kelompok kebingungan di dalam menentukan topik dan
membutuhkan waktu yang lama untuk memutuskan topik apa yang akan di pakai.
Proses
pelaksanaan
kelompok
berusaha mencairkan suasana mengingat ada nya peserta yang masih pasif.
Kelompok juga berusaha membuat ice breaker untuk mengumpulkan perhatian audienc
yang terkadang kurang memperhatikan.
Pembagian
kelompok audience
kelompok sempat
mengalami kebingungan ketika ingin membagi peserta ke dalam beberapa kelompok,
apakah di bagi di awal , pertengahan atau di akhir. Tetapi setelah di lakukan
diskusi, kelompok akhirnya memutuskan mebagi kelompok di pertengahan acara.
4. KENDALA YANG DIHADAPI KELOMPOK
Waktu
Waktu yang digunakan dalam performa sudah cukup bahkan
lebih, sehingga untuk menutupi kelebihan waktu, kelompok berinisiatif untuk
menyisipkan ice breaking sebelum masuk pada sesi pembahasan hasil
diskusi.
Proses pelaksanaan
Proses pelaksanaan berjalan dengan baik walaupun ada
sedikit hambatan pada masalah teknis seperti microphone yang sedikit
bermasalah, dan beberapa kelompok ada yg kurang kondusif ketika berdiskusi
didalam kelompok mereka, bahkan ada yg kelihatannya sosial loafing.
Performa
Performa yg dilakukan cukup baik, pembagian tugas
sudah mulai merata. Video yang ditampilkan menarik dan berhubungan dngan materi
walaupun ada satu video yang kurang berhubungan dengan materi. Tetapi ada
sedikit kendala pada pembahasan, karna video tidak dibahas satu per satu, video
hanya dibahas secara keseluruhan. Ice
breaking yang diberikan dapat diikitu oleh semua audiance, tetapi pada ice
breaking yang kedua audience terlihat kurang dapat mengikuti.
Pembagian
kelompok
Ada
kelompok yang terlalu besar karena gabungan dari tiga kelompk andragogi. Hal
ini menjadi menyebabkan ketidakseimbangan antarkelompok dalam berdiskusi.
5.
PROSES SELAMA PERFORMA BERLANGSUNG
Sebelum
proses pembelajaran dimulai, kelompok memberikan ice breaking sehingga suasana kelas lebih rileks. Ice breaking
dipandu oleh Dewi Sitepu dan diperagakan oleh seluruh anggota kelompok. Untuk
setiap peserta yang mengaku salah menirukan gerakan akan diminta untuk maju
kedepan. Saat itu yang mengaku salah ada Firman, Arifa, dan Agita. Mereka
diminta untuk memberikan satu kata dan satu kalimat mengenai gender. Setelah
mereka selesai memberikan pendapat mereka, kelompok memberikan reward. Setelah
ice breaking selesai, kelompok melanjutkan memberikan materi dalam bentuk slide
mengenai penjelasan singkat tentang gender. Setelah penjelasan singkat mengenai
gender, pembelajaran dilanjutkan dengan menampilkan 3 video mengenai gender.
Videonya berisi bagaimana jika perempuan dan laki-laki bertengkar di tempat
umum, ada yang mengenai bagaimana jika perempuan dan laki-laki ditukar, dan
bagaimana jika di dalam kendaraan umum laki-laki tidak sengaja menyentuh
wanita. Penampilan video tersebut memakan waktu sekitar 11-12 menit dan
pembelajaran dilanjutkan dengan sesi diskusi dimana kelompok membagi setiap
anggota kedalam satu kelompok baru. Kelompok memberikan tiga buah pertanyaan
yang akan dibahas dalam kelompok. Waktu diskusi diberikan sekitar 15 menit
untuk membahas tiga pertanyaan tersebut. Setelah waktu diskusi selesai, setiap
anggota kelompok akan menunjuk satu perwakilan untuk mempaparkan hasil diskusi
mereka. Setelah semua kelompok selesai memaparkan semuanya, kelompok akan
menuju pada kesimpulan pembahasan mengenai kesetaraan gender sebagai penutup
pembelajaran pada pertemuan tersebut.
6.
KRITIK DAN SARAN
·
Sinta Meilastry
Sinta
memberikan kritik mengenai pemberian reward pada saat ice breaking yang dirasa
kurang tepat karena memberikan pada mereka yang salah
·
Muhammad Yusuf Lubis
Peran
setiap gender memang berbeda dan memang tidak bisa benar-benar disetarakan
karena pada dasarnya perannya sudah berbeda. Tetapi kelompok malah mengatakan
bahwa kesetaraan gender itu benar. Kenapa kelompok mengatakan kesetaraan gender
itu benar.
·
Arifa
Arifa memberikan kritik tentang pembahasan kesetaraan dalam konteks sosial, tapi tadi ada dibahas tentang kesetaraan gender dalam konteks pekerjaan
Arifa memberikan kritik tentang pembahasan kesetaraan dalam konteks sosial, tapi tadi ada dibahas tentang kesetaraan gender dalam konteks pekerjaan
·
Kak Fasti Rola
Kak Fasti Rola memberikan kritik sebagai berikut
1.
Sebaiknya saat mempresentasikan video 1,2,3
ditayangkan satu per satu. Tiap 1 video selesai diberikan penjelasan dan
ditanya tanggapan. sampai video ke 3. Kemudian masuk ke penjelasan tentang
gender.
2.
Karena setiap orang memiliki persepsi dan pemahaman
yang berbeda-beda, jadi kelompok juga sebaiknya meminta pendapat dari audiens.
7. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Kelebihan :
-icebreaking
nya menarik
-video nya
menarik
-dapat
belajar dari pengalaman masa lalu
-pembagian
tugas dari kelompok merata
-audiens nya
aktif
Kekurangan :
Audiens
dibuat berkelompok
8.
PEMBAGIAN TUGAS DALAM KELOMPOK
v Dewi
Sitepu sebagai moderator
v Yessica
sebagai moderator
v Sarah
G. Juliana sebagai pemateri
v Ester
Rheyn Judika S sebagai notulen
v Pesta
Ria Tambun sebagai dokumenter
9.
TAKSASI DANA
1.
Reward : Rp. 10.000
TOTAL
: Rp. 10.000
Minggu, 26 April 2015
PENGAJARAN DAUR ULANG KALENG SUSU DAN BOTOL BEKAS PADA ANAK-ANAK
Nama Kelompok
1. Devira Fadiyah R (13-031)
2. Yessica (13-101)
3. Hanna Chairunnisa L (13-105)
4. Ester Rheyn Judika S (13-109)
5. Reza Al Faridz (13-113)
A. OBSERVASI
Observasi
pertama dilakukan pada tanggal 17 April 2015 pada jam 4 sore. Kami memulai
pelaksanaan tugas dengan mencari anak dengan umur sekitar 6-10 tahun yang
rumahnya berdekatan. Setelah anak-anak terkumpul, kami mulai pengajaran dengan
berkenalan satu sama lain dan memperkenalkan diri kami. Kami memberitah tentang
apa yang akan kami ajarkan hari ini. Saat kami mengatakan hari ini kami akan
mengajarkan membuat tempat pensil dari kaleng susu bekas, mereka terlihat
bingung. Beberapa dari mereka saling melihat satu sama lain. anak-anak terlihat
antusias saat memilih kertas tisu yang akan digunakan, menggunting kertas tisu
untuk membuat pola tempat pensil. Salah satu anak ada yang menjadi sangat
kompetitif dalam pengerjaan dan ada juga yang merasa bahwa membuat tempat
pensil tidak cocok untuk dikerjakan oleh laki-laki. Namun, pada akhirnya,
mereka merasa puas dengan pengerjaan tempat pensil mereka karena itu merupakan
hasil tangan mereka sendiri. Hari kedua, anak-anak terlihat tertarik saat
mendaur ulang botol bekas menjadi pot bunga. Mereka semakin tertarik bahwa
mereka akan mengecat sendiri pot bunga mereka. Pertamanya mereka terlihat
berhati-hati saat mengerjakannya karena takut kotor, tetapi lama kelamaan
mereka terlihat lebih santai dan mengerjakannya dengan penuh semangat. Mereka
mencampur warna lain sehingga mendapatkan warna-warna baru. Saat waktunya sudah
mau habis, mereka tidak mau berhenti. Pada akhirnya, kami menghitung sampai 10
dan mereka berhenti mewarnai. Mereka terlihat puas dengan pot bunganya. Mereka
tersenyum dan saat menunggu kering mereka tidak sabar. Mereka menunggu di dekat
pot mereka. Saat pot mereka sudah selesai, mereka terlihat senang.
B. PERENCANAAN
1. Landasan
Teori
Para pakar sering mengatakan bahwa dunia
anak adalah dunia bermain. Dengan main anak akan belajar, artinya anak yang
belajar adalah anak yang bermain, dan anak yang bermain adalah anak yang
belajar. Bermain dillakukan anank – anak dalam berbagai bentuk saat sedang
melakukan aktivitas,mereka bermain sambil berjalan berlari, mandi, menggali
tanah, memanjat, melompat, bernyanyi, menyusun balok menggambar, dan lain
sebagainya. Kami berusaha memahami konsep belajar sambil bermain dengan konsep
pedagogi praktis. Seperti yang diketahui pedagogipraktis tidak hanya mengetahui
apa yang dituliskan di teori saja tetapi dengan mengaplikasikannya dengan cara
melakukan kegiatan bermain sambil belajar seperti ini yang akan meningkatkan
kreativitas maupun perkembangan motorik anak.
Dalam hal pengaplikasian proses pembelajaran ini tentu saja dibutuhkan
seorang pendidik, kami disini berlaku sebagai pendidik anak – anak ini dalam
proses bermain sambil belajar. Peran kami tidak jauh berbeda dengan para guru
pada umumnya. Maka kami berusaha untuk mampu menjadi guru yang baik.
Adapun ciri – ciri guru yang baik antara
lain :
·
Hormat, jujur, kasih sayang sabar,
ikhlas, disiplin, bertanggung jawab, rajin berpikir postif, ramah, rendah hati
·
Memiliki kesadaran akan tujuan
·
Excellent
·
Mempunyai kemampuan bekerja dalam tim
·
Mampu membuat anak mencintai belajar
Konsep pembelajaran
tentu mempunyai tujuan yang jelas. Kali ini dalam konsep kami belajar sambil
bermain tujuan kami adalah meningkatkan kreativitas anak, meningkatkan
perkembangan motorik halus, dan meningkatkan kemampuan bersosial.
Mengembangkan motorik
halus melibatkan otot –otot halus yang mengendalikan tangan dan kaki. Disini
dapat dilihat bahwa dengan mengecat dan membuat tempat pensil sangat membantu
anak – anak dalam meningkatkan kemampuan otot halus mereka. Kemudian dengan memberikan kebebasan mereka
dalam mengecat maupun membuat tempat pensil akan memunculkan imajinasi
imajinasi mereka yang dapat meningkatkan kreatifitas mereka. Dan bermain sambil
belajar bersama teman – teman tentu akan meningkatkan kemampuan bersosialisasi mereka.
2. Lokasi
Komp. Pemda Jalan
Kenanga No. 5 Tanjung Sari Medan 20132
3. Waktu
Pertemuan pertama
Hari : Jumat, 17 April
2015
Jam : 16.00 WIB – 17.30
WIB
Pertemua kedua
Hari : Sabtu, 18 April
2015
Jam : 14.00-16.00
4. Rencana
Kegiatan
Jumat, 17 April 2015
16.00-16.10:
Perkenalan, persiapan untuk memulai pengerjaan tempat pensil, dan briefing singkat
16.10-17.20: Pengerjaan
tempat pensil dari kaleng bekas
17.20-17.30: Pemberian
reward dan perpisahan
Sabtu, 18 April 2015
14.00-14.10: Persiapaan
pembuatan pot bunga dari botol bekas
14.10- 15.50:
Pengerjaan pot bunga dari botol bekas
15.50-16.00: pemberian reward dan
perpisahan
C.
PELAKSANAAN
Pertama, kami mencari anak –
anak dengan kriteria yang dibutuhkan (anak- anak berusia 6 – 9 tahun sekitar 4
– 5 orang). Kemudian kami memberitahu mengenai kegiatan yang akan kami lakukan
dengan orangtua mereka dan meminta izin kesediaan anak –anaknya untuk mengikuti
kegiatan kami. Setelah mendapat izin kami akan membawa anak – anak ke rumah
salah satu anggota kelompok kami yaitu Hanna Chairunnisa L yang alamatnya sudah
tertera diatas.
Kami melakukan kegiatan
mendaur ulang barang – baranf bekas tersebut selama dua hari. Hari pertama
untuk membuat tempat pensil dari kaleng bekas dan hari kedua membuat pot dari
botol plastik bekas. Kegiatan pertama kami adalah perkenalan, lalu dilanjutkan
dengan memberi informasi mengenai lingkungan, kemudian langsung mengerjakan
kegiatan yang dimaksud, dan terakhir penutup. Hari kedua pertama akan diberi
penjelasan singkat tentang masalah sampah lalu dilanjutkan dengan pendauran
ulangan botol bekas.
Dalam sesi perkenalan kami
akan memberi tahu nama nama anggota kami agar mereka dapat memanggil kami
dengan akrab, kemudian kami akan memberi mereka informasi mengenai lingkungan,
bagaimana lingkungan yang bersih, bagaimana lingkungan yang kotor, bahaya
lingkungan yang kotor dan cara pencegahan lingkungan yang kotor salah satunya
adalah melakukan daur ulang. Kemudian akan dilanjutkan dengan pembuatan barang
daur ulang, pelaksanaan akan terlampir. Dan terakhir penutup acara adalah
dengan memilih barang manayang paling unik dan memberikan reward kepada anak –
anak karena telah berpartisipasi dalam kegiatan yang kami adakan.
Cara Membuat :
Tempat pensil dari kaleng susu bekas
1.
Gunting kertas tisu menjadi 4 bagian dengan
ukuran persegi panjang kemudian gulung kertas tisu dengan cara memuntirnya /
memilinnya dengan jari dari ujung kertas sampai ujung lainnya.
2.
Lakukan hal demikian secara terus menerus
sampai gulungan kertas yang digunakan cukup untuk menutupi kaleng bekas
3.
Sebelum gulungan kertas ditempel, kaleng bekas
harus di tempel tisu untuk menjadi alasnya
4.
Kemudian tempel gulungan kertas tisu tersebut
5.
Tempel kertas tisu beda waena pada pinggir atas
dan bawah kaleng agar tampak lebih menarik
6.
Kemudian kita membuat hiasan bunga, dengan cara
membuat gulungan – gulungan tisu warna kecil dan beda – beda warnadan membuat
pola seperti bunga. Buat bunga secukupnya
7.
Kemudian tempel bunga pada kaleng
8.
Agar tempat pensil lebih tahan lam, kita dapat
memberi perni.
9. Tempat
pensil siap digunakan
Pot dari
botol plastik bekas
1. potong botol plastik agak miring menjadi
setengah botol
2. pada pinggiran botol buat lubang kecil dengan
menggunakan cutter
untuk dibolongin pada kedua sisi yang berhadapan
untuk dibolongin pada kedua sisi yang berhadapan
3. lalu siapkan cat dengan pilihan warna
apapun,kuas dan koran bekas
sebagai alasnya
sebagai alasnya
4. mulailah dengan mengecat bagian dalam botol
terlebih dahulu lalu
dengan memakai sarung tangan plastik dan beralaskan koran
dengan memakai sarung tangan plastik dan beralaskan koran
5. setelah bagian dalam botol,dilanjutkan dengan
mengecat bagian luar botol
6. tunggu sampai cat pada botol kering setelah itu
isi botol dengan
tanah dan bibit yang telah disiapkan
tanah dan bibit yang telah disiapkan
7. pada akhirnya,buat tali rajut pada
masing-masing lubang agar pot bisa
digantung dimanapun,misal di batang pohon
digantung dimanapun,misal di batang pohon
8. selesai
D. LAPORAN
KEGIATAN
Hasil yang kami terima sebagai
pendidik khususnya terhadap pengajaran yang kami berikan sangat positif. Positif
dalam artian, kami sebagai pendidik merasa bangga, puas dan berhasil untuk bisa
mendidik anak-anak dengan berbasis pembelajaran paedagogi. Dengan melihat para
peserta yang sangat senang dan tertarik dengan apa yang kami ajarkan kepada
mereka, diujung waktu kami memberikan mereka beberapa reward sebagai tanda
terima kasih kami kepada semua peserta dan reward juga bukan sekedar hal yang
terlalu menjadi fokus utama, Karena misi kami disini adalah bagaimana kami para
pendidik bisa memberikan pengajaran dimulai dari hal yang kecil selayaknya
orang dewasa yang bertanggung jawab. Lalu kami juga ingin melihat bagaimana
respon anak-anak yang kami ajarkan dalam proses yang kami berikan, dimulai dari
pemahamannya, keaktifannya, dan cara mereka untuk mengungkapkan aspirasi mereka
jika mereka merasa kurang puas atas hasil yang mereka dapatkan.
Pada
saat proses pembelajaran berlangsung, kami melihat semua peserta sangat merasa
tertarik dan senang atas pembelajaran yang diberikan. Walaupun pada awalnya
khususnya hari pertama mereka masih terlihat malu dan canggung karena baru
mengenal kami, tetapi seiring dengan berjalannya waktu mereka sangat menikmati
setiap perjalanan program dan sangat antusias ketika kami akan melanjutkan
kepada pembelajaran yang selanjutnya. Dari awal pembelajaran, kami tidak
menuntut agar anak bisa sempurna dalam pembuatan barang-barang yang kami
ajarkan, tetapi sejauh kami melihat perkembangan mereka saat proses
pembelajaran, mereka sangat bisa menguasai setiap program yang kami buat walaupun
tidak sepenuhnya sempurna tetapi mereka bisa mengikuti petunjuk dan arahan yang
kami berikan. Disamping itu juga, kami melihat anak-anak bisa bereksplorasi dan
masing-masing dapat mengembangkan kreatifitasnya melalui pemilihan warna yang
beragam, hiasan, dan cara mereka untuk melalukan tugas tersebut. Pada
kesempatan berikutnya khususnya hari kedua, para peserta juga memperlihatkan
semangat mereka dan siap untuk menerima pembelajaran yang selanjutnya. Seperti
pada pembuatan pot bunga, mereka sangat aktif dan kreatif dalam menjalani tugas
tersebut mulai dari pemilihan catnya sampai memberikan warna pada tempat pot
tersebut, mereka sangat teliti dan ketika pengerjaan berlangsung tidak ada
keonaran ataupun keributan yang terjadi karena dari mereka semua sangat teliti
dan berkonsentrasi.
Kami
sebagai pendidik bisa memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh peserta didik
dalam pembelajaran, dan berharap untuk bagi semua pendidik dapat memberikan
pembelajaran yang tepat bagi anak-anak yang mempunyai bakat ataupun bagi
anak-anak yang mempunyai kekurangan dan bisa memberikan pengajaran yang terbaik
bagi peserta didik. Karena para peserta didik hanya bisa mengikuti pendidik
dalam mempelajari sesuatu dan menerapkannya dalam kehidupan mereka, jadi kita
sebagai pendidik tidak boleh asal dalam memberikan pengajaran karena hal ini
akan membawa peserta didik kepada masa yang akan datang.
E. DOKUMENTASI
F. TESTIMONI
Kegiatan
eco learning dengan bermain sambil belajar kreatifitas ini menarik buat
anak-anak. Kami mengalami sedikit perdebatan saat menentukan topiknya dan apa
kegiatan yang akan kami lakukan dan sepakat untuk memilih topik eco learning.
Dan kegiatannya adalah dengan mengajarkan cara membuat pot bunga dan
menghiasnya, kemudian membuat kotak pensil dan menghiasnya dan bisa dibuat di
meja belajar. Saat perencanaan kami juga sedikit mengalami kesulitan untuk
menentukan siapa anak-anak yang akan kami ajak, awalnya kami berniat untuk
melakukan di sekolahan tetapi akhirnya kami sepakat akan melakukan dengan
anak-anak tetangga salah satu anggota kelompok kami. Kami juga mengalami
sedikit kesulitan untuk menyamakan jadwalnya karena anak-anak punya kegiatan
berbeda, ada yang les hingga sore. Dan akhirnya kami mendapatkan jadwal yang
kami semuanya bisa. Saat proses pelaksanaan kami tidak mengalami kesulitan yang
cukup berarti. Saat pelaksanaan banyak hal-hal yang menyenangkan karena
anak-anak tertarik untuk melakukan kegiatan tersebut. Anak-anak juga sering
bertanya kalau tidak mengerti dan meminta bantuan jika membutuhkan pertolongan.
Kami juga membagikan reward kepada mereka, mereka juga sangat senang
mendapatkan reward dari kami walaupun tidak mahal hanya jajanan saja. Tetapi
mereka tetap senang. Saat proses penyusunan laporan kami berbagi tugas lalu
dikumpulkan kemudian disepakati terlebih dahulu pada laporan kami ini. Akhirnya
laporan dapat diselesaikan secara maksimal dan tepat waktu.
Langganan:
Postingan (Atom)








