Selasa, 11 Maret 2014

Keefektifan antara Pengondisian Klasik dan Operan pada Anak

Kita akan membahas tentang keefektifan antara pengondisian klasik dan operan pada anak. Sebelum kita memilih pengondisian yang lebih efektif kita harus tahu dulu apa yang dimaksud dan dibahas dalam kedua pengondisian ini. Pembelajaran dibagi atas dua yaitu asosiatif dan observasi. Dalam pembelajaran asosiatif terdapat dua pengondisian yang akan kita bahas, yaitu pengondisian klasik dan operan.

PENGONDISIAN KLASIK
Apasih pengondisian klasik? pengondisian klasik itu adalah tipe pembelajaran dimana suatu organisme belajar untuk mengaitkan atau mengasosiasikan stimuli. teori pengondisian klasik ini diperkenalkan oleh Ivan Pavlov saat sedang mengeksperimenkan anjingnya. Disini Pavlov mengasosiasikannya dengan stimulus yaitu unconditioned stimulus (UCS), Unconditioned response (UCR), Conditioned stimulus (CS), Conditioned Response (CR). Pavlov memberikan makanan kepada anjingnya dan anjingnya mengeluarkan air liur, saat dia membunyikan bel anjingnya tidak mengeluarkan air liur, kemudian Pavlov mengasosiasikan setiap kali ada makanan akan ada bunyi bel dan anjing mengeluarkan air liur, lalu setiap kali bel terdengar anjing akan mengeluarkan air liur. terlihat seperti pada poto berikut ini.

 

Di poto ini dijelaskan bahwa sebelum pengondisian daging adalah UCS dan air liur adalah UCR, namun setelah diberikannya pengondisian yaitu saat anjing diberikan makanan dengan bunyi bel, setiap kali bel berbunyi itu adalah CS dan anjing akan mengeluarkan air liur itu adalah CR. 
Lalu bagaimana cara menghubungkannya dengan pendidikan? Kita bisa memberikan stimulus yang menyenangkan atau yang disukai oleh anak-anak, sehingga mereka bisa memberikan respon yang baik dan aktif saat sedang ada di kelas. Guru harus bisa memberikan pengondisian stimulus yang bisa menghasilakan pengondisian respon yang diinginkan. Guru atau pengajar seharusnya tidak boleh memberikan stimulus yang memberikan rasa cemas dan takut terhadap anak-anak karena akan menghasilkan respon yang tidak baik pula, mereka akan merasa terpaksa mengikuti pelajaran dan merasa tertekan.

PENGONDISIAN OPERAN
pengondisian operan adalah sebentuk pembelajaran dimana konsekuensi-konsekuensi dari perilaku menghasilkan perubahan dalam probabilitas perilaku itu akan diulangi.
pengondisian operan ini pertama kali dipelopori oleh E.L. Thorndike dan dibenarkan kembali oleh B.F. Skinner.
Thorndike mempelajari seekor kucing dalam kardus yang pintunya dikunci dan hanya bisa dibuka jika kucing tersebut menekan pijakan yang terdapat dalam kardus dan seekor ikan diletakkan di depan kardus sehingga kucing tersebut bisa mencium aroma dari ikan tersebut. Pertama-tama kucing melakukan respon yang tidak efektif seperti menggigit atau mencakar pintu kardus tersebut, sampai dia tidak sengaja menginjak pijakan tersebut sehingga palang tersebut terbuka. Percobaan-percobaan seperti itu terus diulang sampai akhirnya kucing tersebut mengerti cara membuka pintu tersebut. berdasarkan eksperimen yang dilakukan oleh Thorndike, dia mengeluarkan hukum efek (law effect) yang menyatakan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil positif akan diperkuat dan bahwa perilaku yang diikuti dengan hasil negatif akan diperlemah.

Dalam pengondisian operan ada yang disebut dengan penguatan atau reinforcement. penguatan ini dibagi atas dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif.

1. Penguatan Positif (Positive Reinforcement)
    Penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respons meningkat karena diikuti dengan stimulus yang mendukung. Contohnya orang tua memuji karena anaknya melakukan tugasnya dengan benar. Jadi, ada kemungkinan anak itu akan melakukan tugasnya dengan baik lagi karena dia mendapat pujian.
2. Penguatan Negatif (Negative Reinforcement)
    Penguatan berdasarkan prinsip bahwa frekuensi respon meningkat karena diikuti dengan penghilangan stimulus yang merugikan. Contohnya anak yang menyapu halaman rumahnya karena tidak suka mendengar omelan ibunya. Jadi, dia menyapu rumahnya untuk menghilangkan omelan ibunya.

Bagaimana dengan penerapan pengondisian operan dalam kelas? Guru atau pengajar akan terus memberikan penguatan baik itu dalam positf maupun negatif karena disini guru akan memancing murid untuk melakukan tugasnya baik dia suka maupun dia suka. Maksudnya, jika dia suka dia pasti akan melakukan tugasnya dengan baik dan dia mendapatkan pujian untuk hasil tugasnya, sedangkan jika dia tidak suka mungkin guru akan memberikannya nasihat atau teguran karena hasil yang dia dapatkan tidak maksimal sehingga dia memilih untuk melakukan tugasnya dengan baik untuk menghentikan teguran dari guru tersebut.

Setelah mengetahui tentang pengondisian klasik dan operan, pengondisian yang mana yang lebih efektif untuk digunakan guru atau pengajar dalam mendidik?
Menurut saya, lebih efektif jika guru atau pengajar menggunakan pengondisian operan. Mengapa? karena jika kita menggunakan pengondisian klasik belum tentu stimulus yang kita berikan akan menghasilkan respon yang kita inginkan dan stimulus yang kita berikan belum tentu langsung diberikan respon. Jika kita menggunakan pengondisian operan maka murid akan belajar dengan melihat konsekuensi yang mereka dapat dan kita bisa melihat respon dari murid saat itu juga (langsung). Jika yang mereka kerjakan itu benar, mereka akan mendapatkan positive reinforcement, dimana mereka pasti akan berusaha lagi untuk melakukan tugas mereka dengan baik dan di dalam pengondisian operan, kita bisa menjumpai tentang hukuman ( punishment) yang jelas bagaimana cara menghukum murid tanpa harus melakukakan kekerasan dan malah membuat membuat murid cemas dan takut saat mengikuti kelas itu.Tetapi bukan berarti pengondisian klasik tidak baik, mungkin pada anak-anak pengondisian operan lebih tepat dan lebih efektif.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar